Korupsi MBG Lebih Parah dari Manfaatnya, tapi Program Harus Lanjut
- account_circle Robi
- calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Mahfud MD/tangkapan layar
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menilai dugaan korupsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) jauh lebih besar dibanding manfaat yang dirasakan rakyat. Ia menyebut lebih banyak anggaran terserap untuk pembelian alat ketimbang dinikmati langsung oleh penerima manfaat.
Hal itu disampaikan Mahfud dalam podcast Terus Terang yang diunggah di kanal YouTube miliknya, Selasa (23/6/2026). Meski demikian, ia tetap berpendapat program MBG perlu diteruskan karena dianggap dibutuhkan oleh masyarakat miskin di berbagai daerah.
“Tata kelola itu harus diperbaiki agar menjadi lebih transparan dan tepat sasaran,” kata Mahfud, merujuk pada temuan Kejaksaan Agung yang menyebut nilai korupsi MBG sangat besar.
Mahfud merinci dua perbaikan utama yang menurutnya harus dilakukan: perbaikan pengorganisasian penggunaan anggaran, dan memperpendek jarak birokrasi antara Badan Gizi Nasional (BGN) di pusat dengan pelaksana di daerah. Ia menyebut kebocoran anggaran terjadi sepanjang rantai distribusi dari pusat ke daerah, sehingga rakyat kecil menerima jauh lebih kecil dari yang seharusnya.
Ia juga menyinggung hitungan dari ekonom Ferry Latuhihin yang menyebut anggaran MBG sebenarnya cukup 6-7 triliun rupiah untuk kebutuhan pokok, jauh dari ratusan triliun yang dianggarkan pemerintah.
Mahfud menekankan proses hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat korupsi MBG harus ditegakkan secara serius, sembari menyebut Kejaksaan Agung selama ini cukup terbuka dalam mengungkap perkembangan kasus.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar