Diaspora dan Kedutaan Indonesia Belum Dioptimalkan untuk Ekspor Halal
- account_circle Robi
- calendar_month Senin, 31 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: ilustrasi (AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom INDEF Abdul Hakam Naja menyoroti belum optimalnya peran perwakilan Indonesia di luar negeri, kedutaan besar dan konsulat jenderal, dalam mendorong ekspor produk halal ke pasar global.
Menurutnya, fungsi kedutaan Indonesia selama ini masih terlalu berfokus pada aspek politik dan protokoler, belum menjalankan fungsi diplomasi ekonomi secara maksimal. “Di negara lain itu mereka adalah ujung tombaknya kantor dagang. Jadi Indonesia mestinya fungsi kedutaan tidak hanya fungsi politik dan protokoler, tetapi fungsi diplomasi ekonomi,” katanya, dalam program Sharia Inside, kanal YouTube INDEF, tayang Jumat (28/8/2026).
Ia menilai selama ini Indonesia terlalu terlena dengan besarnya pasar domestik. Dengan populasi 290 juta jiwa dan sekitar 250 juta di antaranya Muslim, Indonesia disebut cenderung “terninabobokkan” sehingga kurang berorientasi ekspor. “Kita terninabobokkan sehingga kita tidak berorientasi ekspor,” ujarnya.
Padahal, populasi Muslim dunia diperkirakan mencapai 2,1 miliar jiwa dengan kemampuan belanja produk halal lebih dari 2 triliun dolar AS, setara lebih dari Rp3.600 triliun. Hakam mendorong duta besar dan konsul jenderal RI di luar negeri memiliki visi ekonomi dan bisnis, bukan sekadar menjalankan fungsi layanan seperti “call center”.
Ia juga mengusulkan adanya target dan evaluasi terukur atas kinerja diplomasi ekonomi tersebut jika nantinya ada seorang menteri koordinator yang ditunjuk mengelola ekonomi syariah. “Kalau ada komandannya, ada Menko, itu kan ada checklist-nya,” katanya.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar