Harga Minyak Tembus $100, Rupiah dan BI Kembali Tertekan
- account_circle Robi
- calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: dok. reuters
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta- Lonjakan harga minyak dunia ke atas US$100 per barel turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dan langkah Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas pasar. Ekonom Yanuar Rizky menilai kenaikan suku bunga The Fed sebagai respons tidak langsung atas tekanan inflasi dari sisi harga energi tersebut.
“Amerika Serikat tidak tahan dengan yang namanya harga minyak di atas 70,” ujar Yanuar, menjelaskan bahwa kenaikan FFR memberi sinyal agar harga minyak yang sempat mendekati level 100 kembali terkoreksi, di kanal YouTube-nya.
Ia mencatat, di tengah ketidakpastian arah kebijakan The Fed sebelum pengumuman, indeks dolar AS sempat melemah ke kisaran 98–99, yang turut membuat rupiah menguat ke kisaran Rp15.500–Rp16.600. Namun, dengan indeks dolar kembali menguat ke level 100 pasca-keputusan The Fed, tekanan terhadap rupiah berpotensi kembali muncul.
Yanuar mengingatkan, pengalaman Maret lalu bisa terulang, saat BI harus terus-menerus melakukan intervensi dan stabilisasi Surat Berharga Negara (SBN). “Bank Indonesia dipaksa untuk terus melakukan stabilisasi yang namanya SBN,” katanya.
Menurutnya, BI kemudian menempuh strategi relaksasi dengan membiarkan pasar melakukan repricing terhadap yield SBN domestik, sembari menyerap likuiditas melalui kenaikan imbal hasil SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia). Namun, strategi ini punya konsekuensi: biaya penerbitan utang baru pemerintah menjadi lebih mahal.
“Kalau sekarang Amerika Serikat sudah membuat batas baru… maka sebetulnya berhutang akan makin mahal bagi semua negara termasuk Indonesia,” tegas Yanuar.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar