Kenapa PAD Jakarta Tinggi meski Minim Sumber Daya Alam?
- account_circle Robi
- calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: ilustrasi (AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Fenomena menarik muncul dalam diskusi soal kemandirian fiskal daerah: DKI Jakarta yang minim sumber daya alam justru memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kapasitas fiskal jauh lebih tinggi dibanding daerah-daerah kaya sumber daya alam seperti di Kalimantan atau Sulawesi.
Rizal Taufikurrahman menjelaskan, ada tiga faktor utama yang membedakan kapasitas fiskal antardaerah, dan PAD bukan satu-satunya penentu kemandirian sebuah daerah.
“Kapasitas fiskal itu bukan ansih dari aspek PAD-nya tinggi atau berkaitan dengan transfer dari pusat ke daerah. Ada tiga hal yang penting,” kata Rizal, di kanal YouTube resmi INDEF (Watch on Economic), diunggah Senin (14/9/2026).
Faktor pertama adalah struktur ekonomi. Jakarta, menurutnya, bertumpu pada sektor jasa dan manufaktur, berbeda dengan daerah lain yang masih mengandalkan sektor primer seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Faktor kedua adalah basis ekonomi atau sumber daya yang digerakkan. “Jakarta katakanlah di sektor jasa dan industri manufaktur, notabene lebih mayoritas di sektor jasanya, baik jasa keuangan maupun jasa perdagangan,” ujarnya.
Faktor ketiga, yang menurut Rizal justru paling krusial, adalah basis penerimaan atau basis pajak yang bisa digali daerah.
“Kalau di Jakarta luas sekali basis pajaknya, tapi kalau di daerah lain sangat terbatas,” ujarnya.
Ia menambahkan, daerah kaya sumber daya alam sering kali hanya mengandalkan Dana Bagi Hasil (DBH) dari pusat, sehingga ketergantungan fiskalnya tetap tinggi meski kontribusi ekonominya besar secara agregat.
“Justru daerah yang mandiri itu bagaimana fiskalnya di daerah itu mendorong efisiensi dan efektivitas dari optimalisasi sumber daya ekonomi yang ada di daerah itu,” katanya.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar