NEWS UPDATE
dark_mode
Top Tags

Pimpinan Pondok Modern Gontor Tegaskan Sikap Independen dan Kontribusi untuk Bangsa

  • account_circle Robi
  • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INAnews.co.id, Ponorogo– Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, menegaskan komitmen lembaga pendidikan yang dipimpinnya untuk terus membina umat dan membangun peradaban bangsa. Komitmen tersebut disampaikan di hadapan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam gelaran Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.

Dalam pidatonya yang hangat dan penuh keakraban, Kiai Sahal menyoroti perjalanan panjang Gontor selama satu abad, sejak didirikan pada 1926 hingga berkembang pesat seperti saat ini. Ia mengingatkan pentingnya menyikapi sejarah secara aktif demi masa depan bangsa.

“Cerdaslah menyikapi sejarah karena kita akan membangun sejarah. Tidak menyerah pada sejarah. Tidak hanya jangan melupakan sejarah, tidak hanya berguru pada sejarah, tetapi kita membangun sejarah, membangun peradaban dari Gontor,” ujar K.H. Hasan Abdullah Sahal, Sabtu (19/9/2026).

Prinsip Keikhlasan dan Kesederhanaan

Gontor yang awalnya berdiri di atas lahan seluas 1,2 hektare pada 1958, kini telah berkembang hingga mencakup 1.200 hektare. Kiai Sahal menekankan bahwa seluruh capaian tersebut tak lepas dari keikhlasan para pendiri, K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi, yang mewakfkan ide, nilai, sistem, hingga lembaga kepada umat Islam dunia sejak 1958.

Kiai Sahal juga menggarisbawahi nilai kesederhanaan yang terus dipegang teguh oleh jajaran pimpinan pondok hingga saat ini.

“Saya pengin menyampaikan kepada Bapak Presiden, boleh disaksikan kalau makan saya, pakaian saya, kendaraan saya, rumah saya, apalagi melebihi makanan santri, pakaian santri, kendaraan santri, rumah santri, protes boleh… Inilah Gontor,” tegasnya.

Merangkul Semua Golongan dan Taat Hukum

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Sahal menegaskan posisi Gontor sebagai lembaga pendidikan yang inklusif dan berdiri di atas semua golongan. Pondok tetap berfokus pada jalur pendidikan tanpa terikat pada faksi politik atau ormas tertentu.

“Anak Muhammadiyah masuk Gontor keluar Muhammadiyah lagi. Pimpinan Nahdlatul Ulama menjadi santri Gontor dan mimpin Nahdlatul Ulama… Kami di sini, Bapak Presiden, tidak keluar dari kata-kata iman, Islam, ihsan sesuai dengan ijtihad para pendiri,” tuturnya.

Selain berkontribusi memerdekakan dan membebaskan bangsa dari ketergantungan melalui jalur pendidikan, Gontor juga menunjukkan keteladanan dalam bernegara. Kiai Sahal mengungkapkan bahwa lembaga yang dipimpinnya baru saja meraih penghargaan atas kedisiplinan dan kerapian dalam pelaporan serta pembayaran pajak.

Peresmian Balai Pertemuan dan Kado Peradaban

Peringatan satu abad ini juga ditandai dengan peresmian gedung Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) yang mampu menampung 4.000 hingga 5.000 santri dan tamu undangan.l

Sebagai bentuk sumbangsih nyata bagi Indonesia, Gontor menyerahkan buku Hadiah Gontor untuk Indonesia serta meresmikan Mushaf Alquran Gontor, hasil karya, cetakan, dan terbitan santri Pondok Modern Darussalam Gontor yang dihadiahkan kepada Presiden dan seluruh umat Islam.

  • Penulis: Robi

Komentar Anda (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

expand_less