Rentetan Kasus Keracunan MBG, Hentikan dengan Langkah Ini
- account_circle Robi
- calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: ilustrasi (AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Eks Menko Polhukam, Prof Mahfud MD mengusulkan langkah drastis untuk menghentikan rentetan kasus keracunan MBG: memutus seluruh kontrak dapur SPPG yang saat ini masih berjalan di sekitar 27.000 titik, lalu mengalihkan pengelolaan program ke tingkat desa berbasis dapur sekolah.
“Ini harus dirombak total, dengan cut off kontraknya, dibayar kompensasinya, lalu sistemnya dimulai dengan yang baru,” katanya, dalam kanal YouTube pribadinya, Selasa (8/9/2026).
Menurut Mahfud, akar masalah keracunan bukan semata soal kebersihan, melainkan beban kerja yang tidak masuk akal bagi satu dapur yang wajib menyediakan makanan bagi ribuan anak setiap hari. “Setiap dapur harus menyediakan makan setiap hari untuk 2.000 anak. Itu seperti orang pesta tiap hari, mantenan tiap hari, pasti gak bisa,” ujarnya mengibaratkan.
Ia mendorong pemerintah berani menanggung kerugian finansial demi menghentikan rantai bahaya tersebut. “Negara harus mengambil risiko itu, daripada setiap hari rugi satu triliun sementara keracunan terus terjadi,” kata Mahfud.
Sebagai gantinya, ia mengusulkan skema school-based kitchen yang melibatkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan bahan pangan lokal. “Sayurnya beli di situ, terong di situ, telur di situ. Sehingga ekonomi di desa itu juga bisa bergerak,” ujarnya, menambahkan bahwa skema ini pernah diarahkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet, namun belum juga terealisasi.
Ia juga menyinggung kekhawatiran tersembunyi di balik keengganan memutus kontrak: potensi terbongkarnya dugaan korupsi. “Kalau nanti korupsinya terbongkar gimana? Dari 27.000 dapur, korupsinya keluar itu berapa ratus miliar nantinya. Itu ketakutan lagi,” ungkapnya.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar