Investasi Menarik 1-2 Tahun ke Depan
- account_circle Robi
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Ferry Latuhihin/tangkapan layar
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom senior Ferry Latuhihin menyarankan para investor untuk mengalihkan portofolionya ke mata uang keras (hard currency) seperti dolar Amerika Serikat, dolar Australia, atau dolar Singapura, ketimbang menempatkan dana di pasar saham dalam satu hingga dua tahun ke depan. Rekomendasi ini disampaikan Ferry lewat podcast di kanal YouTube pribadinya yang diunggah Senin (7/9/2026), di tengah lonjakan harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang terus menanjak.
“At the end of the day orang bertanya sama saya, saya tetap katakan the best asset ya investasi yang paling bagus saat ini adalah dolar,” ujar Ferry.
Harga Minyak dan Yield Obligasi AS Melonjak
Ferry membuka analisisnya dengan menyoroti kenaikan tajam harga minyak dunia. Menurutnya, harga minyak Brent kini sudah berada di level 96,98 dolar AS per barel, sementara minyak mentah jenis WTI berada di 91,97 dolar AS per barel. Ia menekankan bahwa kenaikan ini terjadi dalam waktu singkat.
“Dari sebulan yang lalu itu masih berada di 84-an, sekarang sudah 96-97 untuk Brent. Ini sangat luar biasa menakutkan,” katanya.
Selain harga minyak, Ferry juga menyoroti imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang tak kunjung turun meskipun sudah ada upaya intervensi dari Menteri Keuangan AS. Yield obligasi tenor 10 tahun kini berada di 4,791%, sementara tenor 30 tahun sudah mencapai 5,246% — level tertinggi sejak periode krisis subprime mortgage 2002-2007.
Rupiah Dinilai Kuat karena Intervensi BI, Bukan Fundamental
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Ferry menilai penguatan rupiah yang saat ini berada di level 17.647 per dolar AS patut dicurigai. Ia menduga kekuatan rupiah tidak lepas dari intervensi besar-besaran Bank Indonesia (BI).
“Saya khawatir rupiah ini tidak lepas dari ganasnya intervensi BI. Sebab kalau secara fundamental dan kalau kita lihat juga lingkungan eksternal seperti harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, itu hampir tidak masuk akal untuk pihak menguat,” ujarnya.
Ferry menyebut, dari sisi volatilitas, terlihat jelas BI melakukan intervensi dahsyat agar dolar AS tidak kembali menembus level 17.800 hingga 18.000.
Saham Tidak Direkomendasikan, Terutama Saham Bank
Ferry secara tegas tidak merekomendasikan investor bermain saham dalam kondisi saat ini, termasuk saham-saham perbankan besar seperti Telkom, Bank Mandiri (BMRI), dan BCA (BBCA). Alasannya, tekanan di dalam negeri dinilai tidak kecil, ditambah kekhawatiran soal disiplin fiskal pemerintah.
“Saya tidak rekomendasi Anda main saham. Nah, bagaimana dengan emas? Karena kita tahu bahwa pemerintah ini tidak punya fiskal disiplin. Jadi jor-joran pengeluarannya untuk bakar duit,” tuturnya.
Khusus saham perbankan, Ferry mengingatkan sifat bisnis bank yang procyclical — kinerjanya melonjak saat ekonomi tumbuh, namun ambruk saat ekonomi melambat. Ia meyakini perekonomian Indonesia tengah memasuki fase perlambatan (turning down) pada tahun mendatang.
“Ini ekonomi kita dalam kondisi turning down. Tahun depan tidak mungkin 6%, itu omong kosong kalau menurut saya, karena tahun ini juga didoping oleh belanja negara yang naiknya gila-gilaan,” katanya.
Emas Masih Tertahan, The Fed Jadi Faktor Penentu
Terkait emas, Ferry menyebut harga logam mulia itu saat ini berada di kisaran 4.400 dolar AS per ons, dengan fluktuasi di rentang 4.400 hingga 4.600-4.700 dolar AS. Menurutnya, ada dua kekuatan yang saling menekan (offsetting): harga minyak tinggi yang membuat emas menarik sebagai aset lindung nilai, namun di sisi lain inflasi tinggi di AS membuat sikap bank sentral AS (The Fed) semakin hawkish.
“Market masih takut jangan-jangan The Fed ini menaikkan suku bunganya tahun ini, mungkin bulan ini, September, kalau enggak salah ada FOMC meeting,” ujar Ferry.
Ia menambahkan, inflasi AS yang masih di angka 3,7% — jauh dari target The Fed sebesar 2% — membuat peluang penurunan suku bunga masih jauh dari kenyataan. Bahkan, menurutnya, Bank of America dalam laporannya memperkirakan The Fed baru bisa menurunkan suku bunga secara signifikan sekitar tahun 2028.
Ancaman Berakhirnya Era “Carry Trade” dan Risiko SRBI
Ferry juga menyoroti potensi berakhirnya era carry trade — praktik meminjam dana dengan bunga rendah di luar negeri untuk ditempatkan di instrumen berimbal hasil tinggi di Indonesia, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang yield-nya di atas 7%. Ia mencontohkan yield obligasi 10 tahun Jepang yang kini mendekati 3%, sinyal bahwa suku bunga rendah Jepang mulai berakhir.
“Saya rasa ini that time is over, that golden time,” katanya, merujuk pada era suku bunga rendah global yang selama ini menopang derasnya aliran dana asing ke instrumen rupiah.
Ferry turut mengingatkan risiko dari sisi cadangan devisa. Menurut perhitungannya, sekitar 40% dari cadangan devisa BI senilai 145 miliar dolar AS berasal dari utang, termasuk melalui transaksi swap dengan investor asing pembeli SRBI. Dalam skema ini, investor asing menjual dolarnya kepada BI dengan perjanjian membeli kembali saat SRBI jatuh tempo, ditambah premi swap sekitar 2-2,5%.
“Kalau memang jumlahnya sampai 40% totalnya, katakanlah enggak usah 40%, hitung-hitungan saya kemarin yang terakhir adalah sekitar 28 sampai 35 miliar dolar AS, dengan cadangan devisa yang cuma 145 miliar dolar AS, itu 25% loh, setidaknya yang akan jatuh tempo dalam 1 tahun ini,” jelasnya.
Ia menilai kondisi ini rawan jika investor hot money tersebut menarik dananya secara serentak dalam waktu kurang dari satu tahun. “Ini bisa membuat dolar sampai ke 20.000, itu bukan sesuatu yang mustahil,” tegasnya.
Utang AS Tembus 40 Triliun Dolar, Yen Berpotensi ke 200
Dari sisi global, Ferry menyoroti beban utang pemerintah AS yang telah mencapai 40 triliun dolar AS, sementara produk domestik bruto (PDB) AS berkisar 33 triliun dolar AS — artinya rasio utang terhadap PDB sudah melampaui 100%. Ia menilai tingginya yield obligasi AS membuat posisi Menteri Keuangan AS semakin sulit dalam melakukan pembiayaan kembali (refinancing) utang.
Ferry bahkan tak menutup kemungkinan yield obligasi 10 tahun AS menuju level 5%, yang menurutnya bisa berdampak sistemik ke seluruh dunia, termasuk Tiongkok hingga Vietnam. Ia juga mewanti-wanti potensi pelemahan tajam yen Jepang.
“Yen menuju ke arah 200 itu bukan sesuatu yang mustahil, hitung-hitungan saya melalui yang namanya uncovered interest parity. Sekarang posisinya masih di bawah 160, tapi bukan mustahil dengan dinamika yang terjadi saat ini,” ujarnya, seraya menyebut Euro yang saat ini berada di level 1,16 juga menarik untuk dicermati.
Risiko Fiskal Domestik: Restitusi Pajak hingga Danantara
Selain faktor eksternal, Ferry juga menyoroti dua risiko domestik yang berpotensi memperlebar defisit anggaran negara. Pertama, ia menyebut adanya keterlambatan pengembalian restitusi pajak kepada sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan asal Jepang, yang menurutnya sengaja ditahan agar realisasi penerimaan pajak terlihat tumbuh tinggi.
“Kalau dikurangi dengan restitusi pajak yang harus dikembalikan kepada company-company tadi, saya yakin tidak naik angkanya, pendapatan dari pajak,” ujarnya, memperkirakan defisit APBN berpotensi melampaui 3% dari PDB.
Kedua, Ferry menyoroti kebijakan ekspor satu pintu komoditas lewat Danantara yang menurutnya sudah berdampak pada anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit lebih dari 50%.
“Ini masalah institusional yang tidak diperhatikan oleh pemerintah. Mereka pikir dengan adanya (skema ekspor satu pintu) bisa ekspor satu pintu, pemerintah enggak kecolongan pajak dan everything will be alright. Tapi risikonya sangat besar—risiko operasional dan risiko moral hazard,” katanya.
Rekomendasi: Dolar Jadi Aset Pilihan Utama
Berdasarkan seluruh analisisnya, Ferry menegaskan pilihan investasi terbaik untuk horizon satu hingga dua tahun ke depan adalah memegang dolar, baik dolar AS, dolar Australia, maupun dolar Singapura, ketimbang mata uang rupiah maupun instrumen berbasis rupiah seperti Surat Berharga Negara (SBN).
“Saya rasa dolar memang lebih riskiy tentunya, tapi saya yakin the best asset today is dollar, karena obligasi pun saya khawatir kalau ternyata yield-nya naik, SBN harganya juga turun. Ada price risk juga,” ujarnya.
Ia memperkirakan potensi imbal hasil dari kepemilikan dolar bisa mencapai 10-15% dalam setahun, lebih tinggi dibandingkan imbal hasil SBN yang berkisar 7%.
“Untuk saham saya tidak rekomendasikan karena outlook ekonomi kita ke depan tidak baik-baik saja, malah merosot kalau menurut saya, karena banyak hal baik eksternal maupun internal yang akan mengganggu pertumbuhan ekonomi kita,” pungkas Ferry.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar