Keluar dari MSCI Bisa Picu Pelarian Modal hingga US$20 Miliar
- account_circle Robi
- calendar_month Selasa, 27 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Ferry Latuhihin/tangkapan layar
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta- Ekonom Ferry Latuhihin memperingatkan bahwa jika Indonesia memilih keluar (opting out) dari klasifikasi MSCI dan menjadi pasar standalone, dana asing senilai US$12 miliar hingga US$20 miliar bisa keluar dalam hitungan minggu. IHSG pun diperkirakan anjlok 20–30 persen.
Peringatan itu disampaikan Ferry dalam podcast di kanal YouTube-nya, Senin (26/10/2026). Ia menyebut skenario tersebut sebagai “tsunami jual paksa” karena dana pasif global wajib menjual 100 persen kepemilikannya.
“Kalau sampai pemerintah bilang, ‘Oke, kita keluar, terserah mau standalone’, itu akan terjadi tsunami jual paksa. Ini bukan pilihan, ini aturan dari fund global,” kata Ferry.
Menurut Ferry, dana pasif yang tertanam di pasar modal Indonesia berkisar US$3,1 miliar hingga US$5,6 miliar. Angka US$5,6 miliar mengacu pada estimasi Goldman Sachs, sedangkan US$3,1 miliar pada estimasi Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG). Dana aktif jauh lebih besar, yakni US$8 miliar hingga US$15 miliar, dan akan ikut keluar karena pengelolanya mengurangi risiko (de-risking).
“Kalau ditotal, yang keluar bisa 12 sampai 20 miliar dolar AS dalam hitungan minggu. Ini bahaya sekali,” ujarnya. Angka itu, kata dia, tiga hingga 4,5 kali lipat dari arus keluar sepanjang 2026 yang sudah mencapai sekitar US$4 miliar dan membuat IHSG turun 39 persen.
Ferry menambahkan, sekitar 70 persen pembeli saham besar di Indonesia selama ini adalah investor yang mengikuti indeks MSCI. Jika mereka pergi, investor ritel lokal dan institusi domestik seperti dana pensiun tidak akan mampu menyerap aksi jual. “Dana-dana pensiun dan ritel kita tidak bisa menampung kalau mereka melakukan sell off,” katanya.
Ia menegaskan penghematan biaya dari keluar MSCI, yang ia taksir sekitar Rp10 miliar per tahun untuk biaya konsultan dan pelaporan, tidak sebanding dengan risikonya. Selain kehilangan dana US$12–20 miliar, Indonesia menurutnya akan menanggung tekanan cadangan devisa sekitar Rp180 triliun, kenaikan biaya utang, dan depresiasi rupiah sekitar 8 persen yang mengerek harga impor minyak dan barang modal.
Ferry menekankan skenario itu belum tentu terjadi. Keputusan akhir MSCI baru akan difinalisasi sekitar Juni 2027, setelah evaluasi dengan OJK pada April. Menurutnya, turun dari pasar berkembang (emerging market) langsung ke standalone adalah hal yang mustahil. “Masa kita sejajar dengan Zimbabwe dan Jamaika? Itu tidak masuk akal. Turun satu notch ke frontier market pun masih banyak ruang negosiasi,” katanya.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar