Kasus Kecelakaan Kerja Tinggi, WSI Dorong Solusi K3 di GIFA Indonesia 2026
- account_circle Dony Leonardo
- calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta – Keselamatan pekerja tetap menjadi aspek yang tidak seharusnya dikompromikan.
Tantangan keselamatan kerja pun semakin kompleks. Selain risiko kecelakaan yang melekat pada aktivitas industri. Perusahaan juga perlu memperhatikan kesiapsiagaan terhadap kebakaran, pengendalian asap, perlindungan pernapasan, hingga respons terhadap kondisi darurat.
Data BPJS Ketenagakerjaan yang disampaikan Menteri Ketenagakerjaan mencatat 319.224 klaim kecelakaan kerja sepanjang 2025, dengan 9.834 kasus di antaranya tercatat sebagai fatality.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) masih menjadi tantangan serius, khususnya bagi sektor dengan tingkat risiko tinggi seperti pertambangan, minyak dan gas, konstruksi, manufaktur, dan energi.
PT Wahana Safety Indonesia (WSI) menilai bahwa tuntutan efisiensi dan keselamatan tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua pilihan yang bertentangan. Penerapan K3 yang tepat justru menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas sekaligus keberlangsungan operasional.
“Di tengah tuntutan produktivitas dan efisiensi, keselamatan harus tetap menjadi prioritas. Risiko yang dihadapi industri juga terus berkembang, termasuk risiko kebakaran dan paparan asap. Karena itu, perusahaan perlu melihat kebutuhan keselamatan secara lebih menyeluruh sesuai dengan kondisi operasionalnya,” ujar Fransiscus B. Hermano, Sales & Marketing Director PT Wahana Safety Indonesia.
Dari Produk Menuju Solusi Keselamatan
Perspektif tersebut dibawa WSI dalam partsipasinya di GIFA Indonesia 2026, bagian dari Indonesi Energy & Engineering (IEE) Series – Engineering Week 2026 yang berlangsung pada 9 sampai 12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.
Bagi WSI, GIFA Indonesia 2026 bukan sekedar ruang untuk memperkenalkan produk, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan pelaku industri mengenai tantangan keselamatan yang mereka hadapi di lapangan.
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, WSI menghadirkan solusi keselamatan mulai dari head protection, respiratory protection, eye and face protection, hand protection, protective apparel, safety footwear, fall protection, gas detection, hingga fire safety.
Dalam menghadirkan solusi tersebut, WSI didukung oleh principal dan mitra global dengan keahlian di bidangnya masing-masing, termasuk Rosenbauer untuk solusi fire safety serta Sundström Safety untuk respiratory protection.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya WSI menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan industri dan didukung oleh pengalaman serta teknologi global.
Menurut WSI, kebutuhan keselamatan tidak dapat dilihat hanya dari sisi produk. Setiap lingkungan kerja memiliki karakter risiko yang berbeda, sehingga pemilihan solusi perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan, potensi bahaya, serta kebutuhan operasional masing-masing perusahaan.
Lebih lanjut, Frans menekankan pentingnya pendekatan keselamatan yang berangkat dari pemahaman terhadap risiko.
“Kami ingin mengubah percakapan dari sekadar ‘produk apa yang dibutuhkan?’ menjadi ‘risiko apa yang sebenarnya perlu kita lindungi?’. Ketika risikonya dipahami dengan tepat, perusahaan dapat menentukan solusi perlindungan yang lebih relevan dengan kondisi operasionalnya,” katanya.
Melalui GIFA Indonesia 2026, bagian IEE Series 2026, WSI ingin terus mendorong penerapan K3 sebagai bagian dari strategi bisnis yang mendukung business continuity, operational reliability, dan produktivitas.
- Penulis: Dony Leonardo
- Editor: Helmi Romdhoni

Saat ini belum ada komentar