NEWS UPDATE
dark_mode
Top Tags

Rupiah Bisa Tembus 20.000

  • account_circle Robi
  • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom Ferry Latuhihin kembali mengingatkan investor agar menahan diri dari pasar saham. Lewat kanal YouTube-nya yang diunggah Kamis (1/10/2026), ia menilai tekanan terhadap rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum akan reda. Ia juga menegaskan bahwa kritiknya terhadap pemerintah tidak dimaksudkan untuk menjatuhkan.

Ferry membuka paparannya dengan merujuk pada anjloknya IHSG saat rekaman dibuat. Menurutnya, indeks terkoreksi sekitar 50 poin dan nyaris menyentuh level psikologis 6.000.

“IHSG kembali terjungkal 50 poin pada saat rekaman ini. Hampir saja nyungsep ke bawah 6.000. Tinggal 23 poin lagi,” ujarnya.

Ia mengaku sudah berulang kali menyarankan penonton untuk tidak bermain saham terlebih dahulu. “Saya telah pesan berkali-kali di dalam podcast-podcast saya sebelumnya, jangan main saham dulu,” katanya.

Ferry memperkirakan IHSG masih bisa melemah lebih dalam. “Saya masih yakin indeks harga saham gabungan masih bisa jatuh ke 5.500. Saya bukan nakut-nakutin. Berdasarkan simulasi yang saya lakukan dengan Monte Carlo, hasilnya memang seperti itu,” tuturnya.

Salah satu faktor utama tekanan terhadap rupiah, kata Ferry, adalah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Ia menyebut imbal hasil Treasury tenor 10 tahun telah melampaui 5,3 persen, sedangkan tenor 30 tahun di atas 5,6 persen.

Menurut dia, kondisi ini membuat rupiah tetap tertekan meski Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi besar-besaran. “Saya khawatir tidak akan efektif karena bukan cuma faktor internal yang mempengaruhi, tapi juga faktor eksternal yang sangat-sangat kejam,” ujarnya.

Ferry menjelaskan bahwa tingginya suku bunga di AS didorong oleh dua kekuatan. Pertama, pemerintah AS yang membutuhkan dolar untuk menambal defisit anggarannya. Kedua, perusahaan teknologi raksasa yang memerlukan dana besar untuk investasi kecerdasan buatan (AI).

“Ada dua kekuatan yang mengangkat tingginya suku bunga di Amerika, yaitu pemerintah AS untuk menambal defisit APBN-nya, dan big companies, raksasa-raksasa AI yang juga perlu duit untuk investasi di bisnis AI-nya,” jelasnya. Ia mencontohkan Nvidia, Google, Meta, dan Starlink milik Elon Musk. Google, katanya, belum lama ini menerbitkan obligasi bertenor 100 tahun dengan kupon di atas 6 persen.

Selain itu, harga minyak yang sulit turun di bawah 90 dolar AS per barel dan sempat melampaui 100 dolar AS disebut menjadi sentimen negatif bagi pasar domestik dan rupiah.

Ferry menilai target nilai tukar Rp17.500 per dolar AS dalam rancangan APBN sulit tercapai. “Teman-teman mengharapkan rupiah kembali menguat sesuai rancangan APBN 17.500, saya rasa kemungkinannya sangat kecil sekali,” katanya.

Ia bahkan memperkirakan pelemahan lebih dalam hingga akhir tahun. “18.000 sih di depan mata. Tapi mungkin saya salah. Ke atas 20.000 saja saya rasa bisa sampai akhir tahun ini, bukan besok,” ujarnya.

Menurut Ferry, tekanan ini tidak hanya dialami rupiah. Euro disebut jatuh ke level 1,13, yen Jepang kembali mendekati 160, dan rupee India bergerak menuju 100. “Jadi bukan cuma rupiah saja yang tertekan, tapi across the board,” katanya.

Ferry juga mengingatkan BI agar berhati-hati dalam intervensi, baik di pasar spot maupun pasar forward. Ia menyebut BI diperkirakan telah menggelontorkan sekitar 1 miliar dolar AS di pasar forward dalam dua hari terakhir, namun dolar tetap menguat.

“Saya ngeri kalau BI terus melakukan transaksi derivatif itu akan membuat cadangan devisa kita terkikis habis pada waktunya, karena ada contingent liabilities. Pada saat jatuh tempo, BI harus menyerahkan dolar kepada pihak yang melakukan deal dengan BI untuk lindung nilai,” paparnya.

Ia menyarankan pemerintah fokus menciptakan iklim usaha yang baik agar yang masuk adalah modal jangka panjang, bukan dana jangka pendek. “Yang masuk kemari bukan hot money, tapi benar-benar cold money, datang bawa uang berupa FDI, membangun pabrik di sini, berproduksi di sini, menciptakan lapangan kerja. Itu yang harus ditargetkan oleh pemerintah,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah tidak perlu menerapkan kontrol modal, tetapi harus berhati-hati dalam setiap kebijakan.

Ferry meragukan kinerja emiten pada kuartal III dan IV 2026. “Saya tidak yakin bahwa laporan keuangan emiten-emiten kita di kuartal ketiga dan keempat akan kinclong. Menurut pendapat saya, ekonomi kita akan mengalami slowdown di kuartal ketiga dan keempat,” katanya.

Ia juga mempertanyakan kualitas pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada kuartal I dan 5,29 persen pada kuartal II. “Pertumbuhan yang tinggi itu ternyata tidak berkualitas karena tidak menciptakan lapangan kerja, tidak mengurangi angka kemiskinan,” ujarnya. Ia menyebut daya beli masyarakat belum membaik. “Semua biasa-biasa saja, tapi angkanya sangat fantastis, di atas 5 persen.”

Menurut Ferry, sekitar 40 persen angkatan kerja berada di sektor formal, sementara 60 persen di sektor informal yang masa depannya tidak jelas. Ia mendorong pemerintah menghadirkan paradigma pembangunan baru. “Tidak cuma mengutak-atik angka-angka APBN, nambal dari sana, kurangi di sini. It doesn’t work. Anda harus mengubah mindset,” tegasnya.

Dalam podcast tersebut, Ferry kembali mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). “MBG itu program bakar duit, dan ini terbukti tidak menghasilkan lapangan kerja,” katanya.

Soal KDMP, ia menyebut program itu belum beroperasi, tetapi perbankan sudah menagih sekitar Rp37 triliun kepada Menteri Keuangan. “Padahal sama sekali belum ada hasilnya. Bahkan manajer-manajer Kopdes, kalau tidak salah 30.000 lebih yang pernah dilatih, belum mendapat pekerjaan, belum ditempatkan,” ujarnya. Ia juga menyoroti pembangunan fisik yang menurutnya sembrono, seperti bangunan di pinggir kali dan di tengah sawah. “Proyek ini seolah-olah terburu-buru sekali. Banyak yang curiga, jangan-jangan ini proyek bancakan,” katanya.

Ferry menawarkan sejumlah gagasan. Terkait tuntutan buruh atas kenaikan upah, ia mendukung aksi buruh namun menyarankan agar mereka menggandeng perusahaan untuk mendorong penurunan pajak korporasi.

“Pemerintah harus menurunkan pajak korporasi kalau upah minimum buruh dinaikkan sesuai permintaan buruh,” ujarnya. Ia mengakui penerimaan negara akan turun, “tapi kompensasinya buruh menjadi sejahtera.” Menurutnya, langkah serupa telah ditempuh Filipina, Vietnam, dan Jepang.

Ia juga mengapresiasi gagasan obligasi daerah (municipal bonds) yang dikabarkan telah diluncurkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. “Itu cantik. Kalau bisa beri kesempatan juga kepada daerah-daerah yang secara finansial viable untuk mendapatkan suntikan dana swasta,” katanya.

Ferry mencontohkan Kalimantan, Papua, dan Sumatera yang dinilainya dapat membangun ekosistem penghasil kredit karbon untuk dijual ke pihak asing. “Yang harus kita gali adalah comparative advantage kita, yaitu mother nature, alam kita,” ujarnya.

Ia menilai Indonesia tidak mudah bersaing dengan China dalam industrialisasi. “Kita tidak mungkin bisa melawan China sampai kapan pun. Mereka bisa membuat barang dengan harga lebih murah dan juga lebih bagus. Jadi lupakanlah kalau kita mau melakukan reindustrialisasi, itu omong kosong,” tegasnya.

Menurut Ferry, pendapatan dari kredit karbon dapat menggerakkan ekonomi lokal. “Kalau kita bisa menggaji masyarakat lokal 2 sampai 3 kali UMR, hasilnya sangat dahsyat. Ini akan merambat ke segala macam industri karena masyarakat punya daya beli,” ucapnya.

Ferry menggunakan sebagian podcast untuk menegaskan posisinya. Ia menyebut banyak pihak menilai kritiknya terlalu pedas, tetapi menegaskan tidak berniat menjatuhkan pemerintah maupun presiden.

“Kritikan-kritikan saya seharusnya diambil sebagai masukan kepada pemerintah, bukan mau menjatuhkan,” katanya. Ia menyebut dirinya pernah menjadi bagian dari Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran. “Jadi saya bukan orang luar. Saya mengkritik ini supaya pemerintah ini tidak dijatuhkan.”

Ferry mengingatkan bahwa kejatuhan pemerintahan bisa dipicu faktor eksternal, seperti krisis 1998. “Tidak dijatuhkan oleh kekuatan politik di dalam negeri, tapi dijatuhkan oleh kekuatan dolar. Dan ini saya tidak mau terjadi terhadap pemerintah ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa jika pemerintah jatuh, ongkos sosial, ekonomi, dan politiknya akan sangat besar.

Ia menegaskan bersikap independen. “Saya single fighter, saya lonely wolf. Tidak ada partai politik, tidak ada LSM, tidak ada organisasi apa pun yang memboncengi saya,” katanya. Menanggapi dugaan bahwa ia tidak kebagian jabatan, Ferry menjawab, “Kalau mau, banyak. Kalau saya mau menjilat. Tapi masalahnya saya bukan penjilat.”

Dalam podcast itu, Ferry juga menyinggung Purbaya Yudhi Sadewa. Ia mengaku sejak awal sudah menyatakan Purbaya bukan sosok yang tepat menjadi Menteri Keuangan. “Saya katakan dengan jelas di suatu kanal TV, dia tidak punya kompetensi, dia tidak paham bagaimana ekonomi bekerja,” ujarnya. Menurut Ferry, Purbaya akhirnya dipecat setelah satu tahun menjabat.

Ferry juga mengkritik cara Purbaya membenahi Direktorat Jenderal Pajak serta Bea dan Cukai. “Caranya bukan begitu, main depak kiri, depak kanan. Siapa pun akan marah,” katanya. Ia turut menyoroti gaya komunikasi yang dinilainya tidak pantas bagi seorang menteri keuangan. “Tidak pantas seorang Menteri Keuangan mengeluarkan statement-statement anak jalanan,” ujarnya.

“Saya bersyukur sekali bahwa akhirnya Purbaya dipecat sehingga teman-teman di Kementerian Keuangan dan Bea Cukai bisa bekerja lagi dengan tenang,” katanya.

  • Penulis: Robi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

expand_less