NEWS UPDATE
dark_mode
Top Tags

Defisit APBN Melebar dan Ekonomi 2026 Makin Berat

  • account_circle Robi
  • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INAnews.co.id, Jakarta– Tekanan terhadap anggaran negara semakin berat. Institut riset ekonomi INDEF mengingatkan bahwa kombinasi antara depresiasi rupiah dan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah menciptakan ancaman serius terhadap stabilitas fiskal Indonesia di 2026.

Dalam paparannya pada diskusi publik Senin (9/3/2026), Abdul Manap Pulungan dari INDEF menyebutkan bahwa asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 dipatok di Rp16.000 per dolar, sementara kondisi aktual sudah menyentuh hampir Rp17.000—bahkan sejumlah bank sudah melepas rupiah di kisaran Rp17.243.

“Setiap Rp100 pelemahan terhadap dolar, akan ada lonjakan defisit anggaran sekitar Rp0,8 triliun,” ungkapnya.

Defisit APBN per Februari 2026 sudah mencapai Rp135 triliun, angka yang ia sebut sebagai “sangat tinggi” dan sangat membebani perekonomian sepanjang tahun ini. Situasi diperparah oleh posisi Indonesia sebagai net importer minyak dengan defisit sekitar satu juta dolar per hari.

INDEF mendorong pemerintah untuk segera melakukan restrukturisasi fiskal, termasuk meninjau kembali besaran anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut sebagai pos anggaran terbesar dalam fiskal 2026. Menurut Abdul Manap, dana MBG bisa sebagian dialihkan ke subsidi energi untuk meredam dampak kenaikan harga BBM yang berpotensi terjadi akibat lonjakan harga minyak global.

“Kalau BBM dinaikkan, dampaknya berat sekali dan bertransmisi ke sektor moneter, perbankan, dan sektoral,” tegasnya.

  • Penulis: Robi

Komentar Anda (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

expand_less