Sentimen Negatif Koperasi Merah Putih Melonjak, Ini Penyebabnya
- account_circle Robi
- calendar_month 0 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: dok. ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi program pemerintah dengan lonjakan sentimen negatif tertinggi di media sosial. Analisis Kontinum INDEF menunjukkan kenaikan sentimen negatif KDMP sekitar 30 persen, tertinggi dari delapan program prioritas yang dianalisis.
Data Scientist Kontinum INDEF Wahyu Tri Utomo mengatakan, popularitas KDMP melesat pada 2026. Dari program di peringkat kelima atau keenam, kini KDMP berada di posisi kedua dalam percakapan publik, di bawah MBG. “Sekarang gengsi KDMP benar-benar meroket,” ujarnya dalam wawancara di kanal YouTube INDEF yang diunggah Senin (2/11/2026).
Wahyu menyebut sejumlah pemicu sentimen negatif: Pertama, penempatan lokasi. Gerai yang tidak berada di pusat desa memicu pertanyaan soal narasi awal program. Ada pula temuan lokasi di perbukitan, bahkan titik yang sempat ramai karena berada di tengah laut, meski dikonfirmasi sebagai kesalahan teknis.
Kedua, pelatihan pengelola oleh militer. “Kenapa harus dilatih militer? Padahal kebutuhannya manajerial, lebih ke administratif,” kata Wahyu. Ketiga, penempatan pengelola yang jauh dari domisili, misalnya warga Jawa yang ditempatkan hingga Papua.
Keempat, jam operasional. “Mereka hanya buka sampai pukul 14.00. Kalau narasinya bersaing dengan ritel yang ada, bagaimana caranya jika toko ritel buka 24 jam?” ujarnya. Wahyu juga menyebut publik masih bingung dengan identitas KDMP, apakah ingin menjadi pengecer atau pemasok UMKM.
Peneliti CODES INDEF Fadhila Maulida menilai KDMP seharusnya menjadi agregator, bukan pesaing UMKM. Namun unit usahanya banyak tumpang tindih dengan UMKM lokal, seperti penyaluran elpiji dan toko kelontong.
“Pemerintah perlu mereposisi mau dibawa ke mana KDMP. Kami juga mempertanyakan, tidak jelas peta jalan KDMP itu seperti apa,” kata Fadhila.
Survei CODES INDEF menemukan hanya sekitar 41 persen responden yang pernah melihat aktivitas KDMP di wilayahnya. Fadhila mengusulkan skema kolaborasi, yakni warung lokal mengambil barang dari KDMP dengan harga lebih murah. “Jadi tidak ada persaingan, melainkan kolaborasi,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan model KDMP per desa. “Desa bertetangga karakteristiknya hampir sama. Yang terjadi bukan hanya bersaing dengan UMKM, tetapi antarkoperasi sendiri,” katanya.
Keduanya menilai program sebesar KDMP seharusnya diawali proyek percontohan (pilot project) dan dievaluasi lebih dulu. Fadhila juga menyayangkan efisiensi anggaran yang dialihkan ke MBG dan KDMP, sementara daerah mengalami pemotongan anggaran.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar